Review Indomie Rasa Telur Asin

Indomie Premium Salted Egg

Setelah KFC mengenalkan menu salted egg (telur asin) dan menjadi hype di masanya, hingga Yoshinoya yang mengenalkan menu Beef Bowl dengan topping Salted Egg & Japanese Nori, vendor vendor lainnya pun mulai mengikuti jejak mereka dengan mengeluarkan menu dengan bahan dari telur asin. Salah satu vendor mie instan ternama, Indomie, pun tak mau kalah mengeluarkan produk dengan rasa telur asin.

Indomie Salted Egg
Indomie Salted Egg

Produk yang diberi label Premium Collection ini masih belum dijual bebas di pasaran. Saat ini, Indomie Premium Collectrion Salted Egg ini hanya dijual secara online melalui marketplace, antara lain Indomaret Online, Elevenia, dan beberapa situs marketplace lainnya.

UPDATE:
Indomie Salted Egg sudah tersedia di supermarket terdekat

Saya mendapatkan kesempatan untuk mencoba indomie salted egg karena salah satu teman berhasil mendapatkan pre order yang awalnya sangat susah untuk dibeli. Thanks to Mas Leo. Saya pun cukup penasaran dengan rasa dari premium collection satu ini.

Di dalam satu bungkus Indomie Salted Egg terdapat seporsi mie instan yang ukurannya sedikit lebih besar dari indomie original. Selain itu, terdapat pula satu bungkus bumbu pasta serta bubuk cabe dan bahan pelengkap yang sepertinya adalah kuning telur dalam bentuk serbuk.

Jenis Bumbu di dalam Indomie Salted Egg
Jenis Bumbu di dalam Indomie Salted Egg

Untuk membuat indomie rasa telur asin, hampir sama seperti membuat indomie lainnya, antara lain sebagai berikut:

Memasak Indomie

Panaskan air di dalam panci terlebih dahulu. Buka bungkus indomie, masukkan mie instan ke dalam air mendidih. Tambahkan pelengkap lainnya seperti sosis.

Memasak Indomie

Ada sedikit perbedaan ketika menyiapkan bumbu. Pada indomie salted egg, masukkan terlebih dahulu bumbu pasta beserta bubuk cabe ke piring / mangkuk. Ingat, pada tahap ini jangan masukkan bahan pelengkap yang menjadi satu dengan bubuk cabe.

Memasak Indomie

Jika mie instan sudah terlihat matang, tiriskan dan pindah mie instan ke mangkuk / piring yang telah dimasukkan bumbu.

Memasak Indomie

Aduk mie instan sehingga bumbu merata

Memasak Indomie

Taburkan bahan pelengkap di atas mie

Memasak Indomie

Indomie Salted Egg siap disajikan

Memasak Indomie
Memasak Indomie

Untuk masalah rasa, bagi lidah saya mungkin telur asinnya kurang terasa asin, malah hampir seperti rasa kuning telur biasa. Bumbu bumbu lainnya terasa cocok di lidah. Tapi kembali kepada selera masing masing.

Semoga Indomie makin sukses dan dapat selalu berkreasi memanjakan lidah para penggemar mie di seluruh dunia. Salam dari pinggir kota Surabaya.

Seminggu Menjajal Kehidupan di Tokyo, Japan

Sumida River Bridge (隅田川橋)

Awal bulan ini, saya dan salah satu rekan kantor ditugaskan untuk bekerja di kantor induk kawasan Tokyo selama kurang lebih seminggu dalam rangka mengenal cara kerja dan kondisi di kantor induk saat ini. Berbagai kelengkapan dokumen sudah dipersiapkan sejak sebulan sebelumnya oleh HR department di Surabaya untuk keperluan keberangkatan kami. Selama berada di Tokyo, saya mendapatkan banyak sekali pelajaran yang tidak saya dapatkan di Indonesia.

Shock Culture

Saya mengalami shock culture ketika tiba di Tokyo. Hampir seluruh warga di kota ini berjalan kaki, baik itu ke kantor, sekolah, ataupun ke tempat tempat lain yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Kendaraan pribadi yang terlihat di jalan raya sangatlah sedikit sehingga macet menjadi hal yang tidak terlihat sama sekali selama menginjakkan kaki di Tokyo. Pengemudi mobil pun rata rata lebih mengutamakan pejalan kaki jika dibandingkan dengan Jakarta ataupun Surabaya. Baru disini saya melihat pengemudi yang langsung mengerem ketika melihat di depan ada pejalan kaki yang sedang menyeberang jalan. Biasanya kalau di Surabaya sih sudah di klakson disuruh minggir dari jalan, hahahaha. Hal lain yang saya kagumi adalah tingkat kedisiplinan dari masyarakat di negara ini. Antrian dimanapun sangat rapi mengular tanpa ada yang namanya menyerobot antrian.

Tempat Tinggal

Selama berada di Tokyo, kami bertempat tinggal di daerah Tsukishima yang berjarak tiga stasiun dari kantor yang berada di kawasan Shiodome. Kami menempati fasilitas asrama yang berada tepat di sebelah Sumida River. Cukup ketat akses masuk ke dalam asrama ini. Kami diberikan kartu akses untuk masuk ke dalam asrama dan kunci kamar harus dititipkan ke resepsionis ketika keluar masuk asrama. Bahkan, pengantar pun tidak diperkenankan masuk lebih dalam selain ruangan resepsionis. Untuk fasilitas di dalamnya cukup lengkap dengan kamar AC, kamar mandi dengan bathtub, ruang laundry beserta pengeringnya, ruangan untuk mencuci peralatan makan, serta ruangan untuk menikmati pemandangan ke arah Sumida River.

Sumida River Bridge (隅田川橋)
Sumida River Bridge (隅田川橋)

Makanan

Untuk makanan sendiri, kami tidak begitu kesulitan dengan jenis makanan yang ada disini. Kebanyakan makanan yang halal berasal dari jenis makanan laut. Ikan, Udang, Gurita, Cumi, serta sebangsanya lebih dianjurkan karena lebih aman dimakan untuk muslim. Makanan makanan dengan bahan tersebut pun dapat ditemukan dengan mudah di supermarket terdekat, tentunya dalam bentuk onigiri atau sandwich. Makanan seperti Ramen, Monjayaki dan Okonomiyaki juga dapat dicoba, tentunya dengan minus bahan daging. Entah kenapa, saya suka sekali minum Pocari Sweat selama berada di Jepang dan terasa lebih nikmat dibandingkan dengan minuman yang sama di Indonesia.

Onigiri Isi Belut (鰻のおにぎり)
Onigiri Isi Belut (鰻のおにぎり)

Cuaca dan Suhu

Sebelum berangkat ke Jepang, kami sudah diwanti wanti oleh pimpinan dari Jepang kalau suhu di Tokyo kemungkinan akan berada di atas 35 ℃ dikarenakan di Jepang sedang berada di puncak musim panas di bulan Agustus. Selama berada di Tokyo, memang suhu di luar ruangan terasa sangat lembab, tetapi masih di batas wajar kami yang notabene sehari hari sudah menikmati jalanan Surabaya yang panas. Sementara di dalam ruangan, AC berhembus dengan lumayan kencang. Hari hari terakhir, kami juga merasakan badai taifun yang berhembus melewati Tokyo yang membuat penerbangan pulang kami hampir dibatalkan.

Transportasi

Transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat di Tokyo adalah kereta api. Ada sekitar kurang lebih 200 jalur kereta di seluruh jepang yang terbagi menjadi Subway, Monorail, kereta antar kota, dan komuter. Setiap harinya, kami menggunakan subway untuk menuju kantor yang berada di Shiodome. Karena kami hanya diberi uang cash, maka kami diharuskan membeli karcis setiap kali menggunakan subway. Untungnya, ketika pertama kali menggunakan subway, kami diajari oleh salah satu rekan dari kantor Jepang. Meskipun begitu, ketika keesokan harinya membeli karcis sendiri, saya masih kebingungan karena selain tulisan pada informasi menggunakan kanji, jalur kereta juga cukup banyak. Sementara rekan saya yang sebelumnya juga sudah pernah ke Jepang sebelumnya, sepertinya tidak kebingungan. Saya selalu memperhatikan gerak geriknya dan mempraktekkan hal hal yang tidak saya mengerti ketika berada di dalam subway.

Subway Ticket Machine
Subway Ticket Machine
Keramaian di stasiun subway
Keramaian di stasiun subway

Office Lifestyle

Rata rata aktivitas perkantoran di Jepang aktif dimulai sekitar pukul 10 pagi. Kantor yang kami kunjungi selama seminggu berada di salah satu wilayah Shiodome yang merupakan sebuah kawasan perkantoran besar dan bertempat di Shiodome Media Tower, di salah satu kantor berita (Kyodo News). Salah satu hal yang paling sulit saya lakukan ketika berkantor disini adalah komunikasi menggunakan bahasa Jepang. Saya sendiri baru beberapa bulan belajar baca tulis hiragana dan katakana sehingga untuk mengobrol dengan kalimat kalimat kompleks masih kurang begitu lancar. Untungnya, rekan saya yang merupakan translator sekaligus director project dapat berbicara bahasa Jepang dengan lancar sehingga saya selalu merepotkan dia ketika ingin berdiskusi masalah pekerjaan dengan staff di Jepang. Sepertinya saya harus mengasah lebih dalam kemampuan berbahasa jepang setelah ini.

Kyodo News Office
Kyodo News Office

Goodbye Sony, Welcome Fujifilm

Fujifilm X-T100

Setelah sekian lama menggunakan produk kamera milik brand Sony, akhirnya perlahan lahan saya mulai tergoda untuk beralih ke salah satu brand kamera yang terkenal akan desain retronya yang melegenda. Kini, saya beralih menggunakan kamera milik brand Fujifilm. Saat pembelian kamera ini, cukup membuat sport jantung. Pasalnya, saya membeli kamera secara online di salah satu lapak di daerah Cilacap. Pengiriman menggunakan layanan YES (Yakin Esok Sampai) salah satu vendor logistik ternama ternyata mengalami keterlambatan sehingga paket yang harusnya tiba sehari setelah dikirim oleh seller baru tiba di rumah 3 hari kemudian. Hmmm, harusnya diganti namanya itu menjadi YESKS (Yakin Esok Sampai Kalau Sempat). Untungnya, paket yang terlambat tidak mengalami masalah apapun saat pengiriman dan berfungsi dengan lancar setelah dilakukan unboxing dan review untuk fungsi fungsi kamera.

Sony A6000
Sony A6000 yang sudah berpindah tangan ke pemiliknya yang baru sekarang

Fujifilm X-T100 menjadi pilihan saya sebagai partner travelling untuk beberapa tahun ke depan. Salah satu yang menjadi pertimbangan memilih Fuji adalah saya biasanya hanya menggunakan 3 macam lensa untuk dibawa bawa, lens kit, lensa tele, dan lensa fix 35mm / 50mm. Sony dan Fuji dapat memfasilitasi kebutuhan saya untuk lensa lensa pada ranah tersebut sehingga tidak menjadi masalah bagi saya memilh salah satu dari kedua brand ini.

Selain itu, adalah usia dari X-T100 yang terbilang masih seumur jagung (Sekitar Mei 2018) sehingga dukungan layanan after sales untuk kamera ini akan lebih panjang dibandingkan dengan kamera Sony A6000 yang release di tahun 2014.

Fujifilm X-T100
Fujifilm X-T100

Ketiga, saya tak dapat memungkiri bahwa saturasi dan ketajaman warna kamera Fuji lebih dalam ketimbang milik Sony dengan kisaran harga yang sama tentunya. Sebagai informasi, kamera mirrorless Sony (juga lensanya) terkenal dengan harganya yang fantastis. Sayapun menggunakan kamera hanya sebagai partner travelling untuk mengabadikan moment moment penting ketika travelling danjarang sekali menggunakan fitur fitur yang sering dipakai profesional di bidang fotografer sehingga Fuji saya rasa sudah cukup untuk mengakomodasi kebutuhan saya tersebut. Untuk Canon, sebenarnya bagus, cuman saya kurang suka sama baterainya yang cepat sekali habis.

Fujifilm X-T100 Tampak Belakang
Fujifilm X-T100 Tampak Belakang

Keempat, tak dapat dipungkiri tak sedikit foto foto yang sudah saya ambil menggunakan kamera lama saya, baik itu sebagai koleksi ataupun yang menghasilkan pundi pundi rupiah. Jadi, cukup sayang kalau dijual sebenernya. But, time must go on. Semoga kamera lama saya dapat memberikan rezeki untuk pemilik selanjutnya. Dan akhirnya, semoga saya dapat menghasilkan karya karya yang lebih baik dengan kamera baru saya. Cheers!

Goodbye Sony, Thanks for accompany me for years. Welcome Fujifilm!