CAKNIA
READING

Kebersamaan di Bulan Agustus (2)

Kebersamaan di Bulan Agustus (2)

Persiapan untuk perlombaan di sekolah dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI dilakukan dalam waktu beberapa hari terutama dalam mempersiapkan lomba menghias kelas dan mading, Untungnya, menjelang hari kemerdekaan, sekolah tidak mengadakan proses belajar mengajar secara aktif dan digantikan oleh lomba dan aktivitas ekstra kulikuler. Penilaian lomba mading dan menghias kelas sendiri dilakukan pada akhir pekan setelah upacara kemerdekaan RI selesai dilaksanakan sehingga kami mempunyai waktu sehari untuk mempersiapkannya secara matang.

Kegiatan sekolah hari ini diisi dengan berbagai macam lomba. Salah satu lomba yang diadakan adalah lomba benteng bentengan. Bagi yang belum tahu, benteng bentengan adalah permainan dimana terdapat dua regu yang saling mempertahankan markas masing masing supaya tidak tersentuh oleh lawan. Jika diibaratkan game online, permainan ini seperti game DoTA2 tanpa ada aksi bunuh membunuh. Permainan bertempat di halaman depan tepat di depan perpustakaan sekolah. Ahmad, Dwi, dan Feri yang mewakili kelas kami bertanding pada lomba ini melawan tim dari kelas lain. Teras depan perpustakaan yang dibentuk seperti tangga tingkat tiga penuh sesak oleh para penonton, kebanyakan memang dari kelas kami. Ya, solid sekali teman teman ini dalam mendukung teman sekelasnya yang sedang bertanding, terutama seorang kawan yang bernama Amin. Meskipun sikapnya sedikit melambai, tetapi ia orang yang paling semangat memberikan dukungan pada tim. “Ayo, ayo, Semangat, kalian pasti menang!”, seperti itulah teriakan teriakan Amin dan teman teman dalam memberikan dukungan.

Saya tidak begitu lama menonton pertandingan karena harus membantu teman teman yang lain untuk membersihkan kelas sebelum besok dihias. Saya berpaling menuju ke ruang kelas yang bertempat di samping lapangan basket. Ruang kelas yang akan kami hias. Terlihat beberapa teman sudah memulai menyapu dan membersihkan sarang laba laba yang menebal di sudut sudut ruangan. Meja meja pada ruang kelas ini berbentuk meja kayu yang terdapat laci tanpa tutup (biasa menyebutnya ‘selorokan’) untuk menempatkan buku buku pelajaran. Terkadang, plastik plastik bekas makanan pun menumpuk di dalamnya sehingga membuat laci menjadi kotor dan bau. Pada akhirnya, kami harus mengecek satu per satu laci masing masing meja, mengeluarkan kotoran yang ada, dan membersihkannya agar menjadi lebih bersih. Cukup melelahkan.

Beberapa jam kemudian, ritual bersih bersih kelas sudah selesai dilakukan. Proyektor dan komputer sudah siap digunakan untuk menampilkan video dan musik esok hari. Meja meja sudah tertumpuk rapi di sisi kanan, kiri, dan belakang kelas sehingga ruang kelas terlihat lebih lapang. Setelah menumpuk meja yang terakhir, saya duduk di lantai berbaur dengan teman teman yang ternyata sudah asyik bercanda gurau.

Saya: “Ka, memang mau pasang video apaan. Tuh projectornya udah tak pasang”
Eka: “Tak bikinin bendera berkibar gimana”
Saya: “Terus tak puterin lagu lagu kebangsaan yo, nanti tak list lagune apa aja, itu yo kebetulan ada speakernya”
Eka: “Siip, mantab ndi”
Saya: “Eh, masalah mading gimana rek?”

 Memang, saya tidak terlalu mengetahui mading seperti apa yang akan dibuat karena sudah ada tim sendiri yang mengurusnya. Segala perencanaan dan pembuatan mading pun tidak dilakukan di sekolah melainkan di rumah seorang teman, Ella.

Karena urusan di sekolah hari ini sepertinya sudah selesai, maka saya berniat pulang saja mengistirahatkan diri untuk persiapan upacara pada hari esok. Setelah pamitan, saya keluar dari kelas dan bergegas menuju parkiran motor. Tanpa sengaja, saya berpapasan dengan Lian di depan pintu kelas.  Saya hanya sekedar menyapanya kali ini dan langsung bergegas pulang ke rumah, mengumpulkan stamina untuk esok hari.

———————-
17 Agustus 2007
———————-

Pagi ini saya berangkat sekolah lebih awal dari biasanya. Pukul 05.00, saya sudah bersiap untuk mengenakan seragam paskibraka serba putih yang tergantung di pintu lemari. Sepatu Van Topel warna hitam menjadi item yang wajib digunakan pagi ini. Tak lupa saya membawa tas punggung yang berisikan pakaian olahraga dan sandal yang akan saya kenakan seusai upacara bendera. Motor Supra Fit biru saya keluarkan dari kandangnya dan kemudian saya pacu dengan santai menuju sekolah untuk berkumpul terlebih dahulu dengan tim paskibraka. Jarak dari rumah menuju sekolah hanya 5 menit perjalanan sehingga tidak lama saya sudah berada di gerbang sekolah yang ternyata teman teman paskibraka sudah berkumpul untuk bersiap berangkat ke kecamatan. Setelah briefing selama 15 menit, kami bersama sama menuju kecamatan yang terletak tidak jauh dari sekolah dengan mengendarai motor masing masing.

Bagi saya, upacara kemerdekaan kali ini terasa begitu berbeda. Selain posisi saya yang sekarang bertugas dalam pasukan pengibar sangsaka merah putih, upacara yang saya ikuti kali ini tidak bertempat di lingkungan sekolah. Bertempat di halaman depan kantor kecamatan, upacara pagi ini diikuti oleh perwakilan beberapa sekolah, para pegawai kecamatan, LSM, serta warga sekitar. Gladi bersih dilakukan sekali sebelum upacara dimulai supaya tidak terjadi miss komunikasi ketika upacara berlangsung nanti. Upacara pagi ini berlangsung selama setengah jam. Indonesia Raya selalu berkumandang ketika pengibaran bendera dilakukan. Beberapa lagu kebangsaan pun dinyanyikan, seperti Andhika Bhayangkari hingga Satu Nusa Satu Bangsa. Upacara bertambah meriah ketika semua peserta turut menyanyikan lagu lagu tersebut. Doa menjadi penutup upacara pagi ini. Cukup melegakan, karena tim paskibraka sudah melaksanakan tugas pagi ini dengan baik. Puas terpancar dari wajah kami semua karena tugas ini telah selesai dengan baik. Setelah mengobrol dengan petugas dari kecamatan dan menyelesaikan sesi foto 😀 , kami bertolak kembali ke sekolah untuk menikmati kegiatan kegiatan lain di hari kemerdekaan ini. Saya sendiri cukup berkeringat pagi ini karena seragam paskibraka yang cukup tebal dan ketat,

Lima belas menit berkendara motor, kami telah sampai di sekolah. Saya langsung memarkir motor dan berjalan menuju kelas untuk mengetahui bagaimana hasil akhir ruang kelas digital yang sudah direncanakan sebelumnya. “Aaaaaarrrrgghhh!!!!”, kaget saya ketika masuk ke dalam kelas. Saya meilhat sesosok makhluk gaib berjubah hitam pekat yang membawa sebuah tongkat. Di jubah yang ia kenakan, terdapat banyak sekali kertas yang menempel. Saya masih diam karena kaget melihat makhluk ini. “Hoi ndik, ngapain diem?”, makhluk itu berbicara. Saya perhatikan lagi, dari ujung rambut sampai ujung kaki dan pada akhirnya saya tersadar, “Oalah, ini kamu ta Har?”. Ternyata inilah mading berjalan yang teman teman buat. Hari, yang merupakan maskot kelas kamilah yang menjadi madingnya. Artikel artikel tentang kemerdekaan ditempelkan pada jubah yang dipakainya serta tongkat yang dibawanya. Make up wajahnya yang berwarna putih dengan sedikit warna darah menimbulkan kesan seram pada mading ini. Sesekali, Hari keluar masuk kelas untuk menarik perhatian teman teman kelas lain, serta para guru untuk sekedar mampir ke dalam kelas. Kreatif!.

Seisi ruangan sudah dihias dengan ciamik. Bendera bendera merah putih dari plastik kecil dirangkai dengan tali dan dibentangkan dari sudut ke sudut. Papan tulis telah digambar diorama kemerdekaan yang menampilkan aksi heroik arek arek Suroboyo. Lagu lagu instrumen kebangsaan terdengar lirih di dalam kelas. Begitu saya memandang ke salah satu sisi ruangan, terlihat melalui proyektor sebuah video sedang diputar. Sebuah video yang menampilkan sangsaka merah putih yang tengah berkibar. Ternyata ini video yang dibuat Eka kemarin. Tiba tiba saja, instrumen Indonesia Raya yang berkumandang membuat saya ingin hormat lagi pada sangsaka merah putih yang sedang saya pandang saat ini. Tetapi, gerah di tubuh mengalahkan segalanya. Akhirnya, saya melepas seragam paskibraka yang cukup ketat dan tebal ini di dalam kelas dan memakai seragam olahraga yang telah saya siapkan di dalam tas. Kemudian, saya beristirahat sejenak di depan komputer sambil menambahkan beberapa list lagu. Untungnya, teman teman cewek sedang berada di luar kelas sehingga mereka tidak melihat saya yang sedang bertelanjang dada. Saya beristirahat sejenak di dalam kelas ini sambil memikirkan banyak hal hingga beberapa jam kemudian beberapa orang guru mulai menilai semua kelas dan mading. Satu persatu kelas dimasuki, diamati, dan dinilai hingga sampai pada waktunya menilai kelas kami. Mr. AB yang menjadi juri pun sempat kaget saat melihat Hari yang berpakaian seperti malaikat pencabut nyawa 😀 . Mereka pun sempat terpesona karena diorama, video dan tema musik yang selaras pada kelas kami. Semoga hasil ini berbuah manis.

Kerja keras kami berbuah hasil yang manis. Saat pengumuman, kelas dan mading kami menjadi juara dari kelas kelas lainnya. Dan saya sangat bersyukur sekali mengenal teman teman yang sangat kreatif dan memiliki kerja sama yang baik. Semoga sukses di masa depan, kawan kawanku 🙂


INSTAGRAM
@andikurnia