CAKNIA

Cincin yang Hilang

Catatan Perjalanan Hidup

Setelah acara kemerdekaan selesai, hari hari terlewati begitu saja dengan rutinitas khas anak SMA yang seharian penuh menghabiskan waktu di dalam area sekolah. Ya, sekolah dengan waktu belajar “full day” mengharuskan para siswanya berada di dalam lingkungan sekolah selama hampir 8 jam setiap harinya. Sabtu, Minggu dan tanggal merah menjadi hari dimana kami dapat melupakan sejenak rumus rumus fisika yang menggila di dalam otak. Bagi saya sendiri, Fisika merupakan sebuah momok yang cukup membuat otak cenut cenut. Bagaimana tidak, bahkan ketika ada dua mobil yang melaju kencang dari arah yang berlawanan, ketika dua mobil tersebut bertabrakan, bukannya ditolong malah disuruh menghitung gaya gesek ketika mobil tersebut menginjak rem sampai menabrak hingga kecepatan mobil saat saling bertumbukan. Ya, pada intinya saya cukup kewalahan dalam pelajaran ini. Ditambah, guru fisika yang senang sekali mengobrol dengan papan tulis menurunkan minat saya terhadap pelajaran ini. Padahal sebentar lagi ujian semester diadakan. Ah, lengkap sekali penderitaan kali ini.

Hubungan dengan teman teman sekelas sendiri menjadi lebih akrab setelah acara kemerdekaan membuat suasana dalam kelas pun menjadi lebih cair. Bahkan, permainan paparazzi menjadi semakin parah. Dari yang awalnya sembunyi sembunyi sekarang bahkan saat sedang ngobrol pun tak luput juga dari tangkapan kamera handphone nokia. Saya pada akhirnya juga menjadi salah satu paparazzi, mengabadikan kegiatan ‘nyeleneh’ teman teman di dalam kelas. Pose tidur dan natural menjadi favorit saya dalam pengambilan foto dan aktivitas ini menjadi hiburan tersendiri bagi saya di tengah penatnya berbagai mata pelajaran IPA yang memusingkan. Terkadang pula, Lian pun menjadi sasaran bidikan kamera handphone saya. Saya selalu tersenyum melihat berbagai posenya yang saya ambil secara diam diam.Ya, hubungan saya dengan Lian semakin dekat. Seringkali saya dan Lian saling kirim sms di tiap malam untuk sekedar berbagi cerita. Dia lebih terbuka bercerita tentang kehidupan sehari harinya meskipun dalam setiap cerita yang ia sampaikan terkesan implisit. Entah memang seperti itulah cara dia bercerita pada orang lain atau dia masih belum percaya saya dapat menyimpan rahasia miliknya. Terkadang, ia masih menyisipkan beberapa sajak khas miliknya yang sulit untuk dipahami. Hal itu seringkali membuat saya berpikir keras untuk mencerna setiap kisahnya. Tetapi, semua hal itu justru membuat saya semakin penasaran dengan sosok Lian.

“Opo ndi, sakmunu ae wis ngos ngos an (ah ndi, segitu aja ngos ngosan)”, celoteh Ahmad. Saya tidak memperdulikan dia dan tetap berbaring terlentang di lapangan depan perpustakaan setelah berlari dua putaran mengelilingi sekolah. Seragam olahraga yang saya pakai akhirnya kotor karena saya berbaring di atas paving lapangan. Pelajaran olahraga pagi ini memang dimulai dengan lari dua putaran mengelilingi sekolah. Ahmad memang memiliki daya tahan fisik yang bagus, berlari dua putaran pun dia tidak seberapa kelelahan seperti saya yang masih terlentang sambil mengatur nafas. Dalam posisi ini, saya menolehkan kepala ke arah kiri melihat teman teman satu persatu menyelesaikan dua putaran pagi ini. Wawan, Eka, Dwi, Layla, dan teman teman lainnya juga sudah mulai mengatur nafas di sekitar saya. Kemudian, pada gerbang sekolah yang menjadi garis finish, terlihat seseorang yang sangat kelelahan setelah menyelesaikan dua putaran. Meskipun begitu, parasnya tetap terlihat manis. Lian akhirnya sampai di garis finish dan terlihat sangat kelelahan. Dia langsung duduk di sebelah Amin sambil meregangkan kaki. Saya iri dengan Amin, sepertinya dia dekat sekali dengan Lian. Tapi mengingat Amin yang ‘melambai’, sepertinya hubungan mereka hanya sebatas teman curhat. Saya tidak mau ambil pusing memikirkan itu.

Karena nafas saya sudah mulai teratur, maka saya bangun, kembali ke kelas dan bersiap ganti pakaian dengan seragam sekolah untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. “Hoi, mad, balik ke kelas yok”, ajak saya. “Yok, ini bareng lainnya juga”, sahutnya. Saat saat seperti ini, ruang kelas biasanya menjadi rebutan antara cowok cewek sebagai ruang ganti dan sudah bisa ditebak para cowok yang selalu mengalah hingga kami, para cowok, harus ganti baju di toilet sekolah. Bahkan setelah para cowok selesai ganti pakaian, pintu ruang kelas pun masih saja ditutup dan dijaga ketat oleh beberapa teman cewek. Akhirnya, saya dan teman teman cowok hanya bisa menunggu sambil mengobrol di depan ruang kelas.

Cukup lama juga cewek cewek ini ganti pakaian. Entah apa yang mereka lakukan di dalam sana, mungkin sambil dandan ala anak SMA. Setelah beberapa waktu, barulah kami para cowok dibukakan pintu ruang kelas dan dipersilahkan masuk. “Ngapain aja sih kalian?”, Feri masuk sambil ngomel ngomel karena menunggu lama. Saya yang berjalan di belakangnya hanya tertawa melihat Feri disoraki dan diomelin para cewek karena ocehannya tadi. Ternyata pepatah selama ini memang benar, “Wanita itu Penguasa dan tidak mau Mengalah”.

Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran Agama dan kebetulan ruang kelas tetap memakai ruang yang sama. Saya duduk di deret belakang seperti biasa. Saya memperhatikan sekeliling, teman teman mulai mengeluarkan buku pelajaran Agama dari tas masing masing. Beberapa asyik mengobrol sambil menunggu guru datang. Di sinilah saya melihat Lian yang sedang mencari sesuatu di dalam tasnya. DIa membuka semua celah di tas punggung biru miliknya berulang kali. Semua isi di dalam tas dia keluarkan, ditaruhnya di meja, dan dikembalikan lagi ke dalam tas. Wajahnya terlihat kebingungan dan sepertinya gelisah. Mungkin dia lupa membawa buku Agama tetapi sepertinya bukan karena itu. Buku pelajaran Agama terlihat dengan jelas di meja tempat duduknya. Lalu apa yang sedang ia cari?

Guru Agama pun datang dan langsung memulai pelajaran hari ini.  Pandangan saya kembali fokus ke depan kelas memperhatikan materi yang disampaikan. Tiba tiba handphone yang saya taruh di dalam saku celana bergetar, satu sms diterima. Ternyata dari Lian, “Ndi, cincinku hilang.. :'( “. Kuperhatikan lagi, Lian sudah tidak mengacak ngacak tasnya dan memasamg wajah sedih. “Seberapa spesial sih cincin itu?”, batinku. Selama ini memang dia selalu memakai sebuah cincin di salah satu jarinya tetapi saya tidak mengetahui sejarah cincin itu. Pernah saya tanya tentang sejarah cincin yang selalu dia pakai, tetapi malah dijawab, ” Secret make a woman, woman”. Melihat wajahnya yang sedang bersedih membuat saya menjadi iba. Saya balas sms nya tadi, “Nanti aku bantu cari”. Dan saya fokus kembali ke pelajaran hingga selesai.

Waktu berlalu dan tak terasa sudah jam istirahat siang. Kelas pun sudah berpindah lagi. Saya masih melihat wajah Lian yang murung dan sepertinya dia juga menceritakan hal tersebut pada sahabatnya, Amin, karena ia juga terlihat menghibur Lian yang sedang bersedih.

Saya: “Belum ketemu kah?”

Lian: “Belum ndi, biarin lah ikhlas aku” (masih pasang wajah sedih)

Amin: “Bantuen nyari dong ndi, kasihan inj lho”

Saya: “Ya ini kubantu kok”

Lian: “Udah, aku ikhlas kok :-)”

Karena Lian sudah bilang begitu, lebih baik aku diam diam saja membantunya mencari cincin miliknya. Saya sudahi obrolan saya dengan Lian dan Amin dan mulai mencari cincin tersebut di lingkungan sekolah. Saya menelusuri ruang ruang kelas yang kami gunakan hari ini. Tiap meja hingga sudut ruangan tak luput dari pandanganku tetapi saya masih belum dapat menemukan cincin itu. Saya pun sempat bertanya kepada beberapa orang teman di kelas lain tentang tentang masalah cincin ini, tentunya saya tidak menceritakan bahwa cincin ini milik Lian. Saya menceritakan bentuk cincin ini kepada mereka berharap ada yang menemukan cincin itu tanpa sengaja tetapi hasilnya tetap nihil. Tak ada satupun yang melihatnya. Saya kemudian berpindah ke tempat pembuangan sampah yang berada tepat di samping perpustakaan siapa tahu terselip dan ikut terbuang di tempat pembuangan. Cukup lama saya berada di tempat ini mencari dan mencari tapi tetap tidak menemukan benda tersebut. Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tetapi saya masih mencari benda itu hingga tangan saya menghitam bekas mengobrak abrik tempat pembuangan sampah. Pencarianku selesai ketika bel masuk berbunyi dan masih tidak menghasilkan apa apa.

Di dalam kelas, saya belum berani untuk berbincang dengan Lian. Bagaimanapun, kali ini saya tidak berhasil menepati janji ke orang lain. Tidak enak rasanya ketika melontarkan sebuah janji tetapi tidak bisa menepatinya. Saya harus minta maaf kali ini. Jarak meja yang cukup jauh membuat saya tidak bisa dengan bebas berbincang dengan Lian. “Lian, aku minta maaf, sepertinya cincinmu tak bisa aku temukan”, tulisku pada sms dan mengirimkannya ke Lian. “Gpp, semoga dapat ganti yang lebih baik nanti”, balasnya.

“Sebenarnya, cincin itu pemberian dari seseorang spesial”, ungkap Lian. “DEG!”.  Pernyataannya itu cukup membuat saya bertanya tanya. Siapa orang itu, seberapa spesial dia di mata Lian?


INSTAGRAM
@andikurnia