CAKNIA
READING

Sahabat dan Kenangan Indah Masa Lalu

Sahabat dan Kenangan Indah Masa Lalu

Lian: “niat mau ucapin ultah di fesbuk, apa daya sudah di unfriend. Selamat Ulang Tahun ya, semoga dilancarkan segala urusannya”

*deg. Kembali saya perhatikan nama pengirim pesan ini, “Lian”. Seakan tidak percaya, saya buka profil pengirim pesan itu dan kali ini yakin kalau memang pengirim pesan ini benar benar Lian yang saya kenal. Lian yang dulu pernah mengisi hati ini dengan penuh warna. Tawa, canda, hingga tangis pernah saya lalui saat bersamanya. Ah, kenapa saya jadi teringat masa masa itu? Butuh waktu beberapa menit memikirkan kalimat yang pas untuk membalas pesan itu. “Terima Kasih”, dengan tambahan emoticon senyum supaya terkesan tidak terlalu formal. Entah kenapa, cukup berat untuk membalas pesan kali ini. Mungkin karena sudah bertahun tahun tidak komunikasi dengan Lian, saya merasa canggung untuk membalas pesan ini. “Gimana kabarmu? Gimana kegiatanmu selama ini? Apa kamu baik baik saja? Keluarga bagaimana?”, semua pertanyaan itu saya sampaikan saat ini juga. Mungkin karena bertahun tahun tidak komunikasi dengan Lian, saya merasa rindu dengannya. Semua kenangan dengannya bahkan masih tersimpan rapi di dalam hati. Tidak begitu banyak yang saya bahas dengannya karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan mengingat deadline yang sudah begitu dekat. (*kembali ngoding)

Setelah malam itu, aktivitas saya berjalan seperti biasa. Saya berkutat dengan pekerjaan dan mencoba mengalihkan perhatian dari Lian. Satu persatu pekerjaan saya selesaikan sesuai dengan deadline yang diberikan client. Tak lupa saya kirim email untuk client supaya mereka dapat mereview pekerjaan yang sudah saya selesaikan. Untuk mengisi waktu luang., saya memainkan game DoTA2 untuk merangsang saraf motorik dan kinerja otak sambil menunggu respon email dari client. Siang hari saya habiskan untuk mengurus pekerjaan di kantor. Pekerjaan yang saya lakukan di kantor pun sama halnya dengan pekerjaan freelance. Terkadang, saya cukup tertekan ketika deadline itu menumpuk di dalam satu waktu. Canda selalu menjadi senjata di saat saya atau salah satu rekan kantor sedang stress menghadapi jenis pekerjaan  ini yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Seperti itulah, hingga tanpa terasa weekend pun telah tiba.

Weekend merupakan saat untuk bersantai dan membakar lemak. Sabtu ini saya pergi berenang bersama teman teman kantor di salah satu kolam renang milik kampus pendidikan ternama di kota Buaya. Cukup ramai kolam renang pagi ini, mungkin ini karena minggu depan sudah memasuki bulan puasa. Tak ambil pusing, saya dan teman teman langsung mencari spot yang tidak begitu ramai untuk menceburkan diri ke kolam renang. Hampir dua jam kami berenang, berlatih gaya gaya yang saya rasa tidak cukup penting untuk diterapkan saat renang serta menggoda anak anak smp, kami pun menyudahi aktivitas ini. Seperti biasa, seusai renang selalu ada sesi cangkrukan membahas berbagai macam hal tentang kehidupan tetapi entah kenapa hari ini saya agak malas untuk gabung dan memilih pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, saya langsung memarkir motor ke dalam teras, masuk ke dalam kamar, dan langsung rebahan di kasur sambil memandang akuarium. Melihat ikan ikan berenang selalu membuat perasaan ini adem. Tiba tiba saya teringat Lian, “Apa yang sedang ia lakukan sekarang?”, batinku. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengambil handphone di dalam tas, membuka whatsapp dan mencari percakapan dengan Lian minggu lalu. Saya mencoba untuk mengirimkan pesan basa basi padanya. Sent!. Saat mengirimkan pesan tersebut, kilas balik memori masa masa SMA kembali hadir…

——————————-

2007 (masa SMA)

SMA merupakan masa masa paling bahagia dalam hidup saya. Saya hidup di sekitar orang orang yang memiliki satu visi dan misi yang sama. Belajar, main game di lab komputer, serta nge blog menjadi aktivitas saya sehari hari. Karena sekolah menggunakan sistem full-day, lebih banyak waktu sehari hari saya habiskan di dalam lingkungan sekolah. Terkadang, cukup membosankan mengikuti pelajaran seharian penuh. Untuk menghindari rasa bosan, seringkali teman teman satu kelas membuat sebuah permainan yang bernama, paparazzi. Teman satu kelas, Eka dan Wawan lah yang menjadi pencetus terciptanya permainan paparazzi. Eka merupakan teman seperjuangan yang berkecimpung di dunia IT, sama seperti saya. Sedangkan Wawan merupakan ketua kelas yang sangat jahil. Pada permainan ini, layaknya fotografer paparazzi artis artis ternama, teman teman yang memiliki hape berkamera, di saat jam jam bosan dimana tidak ada guru yang mengajar, berkeliling di dalam kelas untuk mencari korban foto. Biasanya yang menjadi korban adalah teman teman yang sedang tertidur pulas, sedang berduaan di pojok kelas, dan seseorang yang seringkali menjadi maskot kelas. Saya juga sering menjadi korban para paparazzi ini. Untungnya facebook belum sebooming saat ini. Ngeri jika saya harus membayangkan foto foto ‘nista’ saya ketika berada di dalam kelas.

Hari hari SMA di mulai sejak pagi hari hingga menjelang petang. Pagi ini, saya berangkat lebih awal untuk nge’jip’ tempat duduk di barisan paling belakang karena pelajaran pertama pagi ini dilakukan di dalam lab biologi. Yap, lab merupakan tempat yang paling nyaman untuk tidur, hahaha. Dengan mengendarai motor, saya sampai di sekolah dalam waktu 5 menit perjalanan. Ternyata, saya sampai terlalu pagi dan lab pun masih belum dibuka. Beberapa orang teman yang sudah datang duduk dan ngobrol di lorong depan lab sambil menunggu lab dibuka. Saya pun bergabung dengan mereka sambil memandang lapangan basket. Dari posisi duduk, saya dapat memandang banyak hal. Di sebelah kanan, saya dapat melihat pemandangan teman teman yang sedang bersenda gurau dengan lepasnya. Lurus di depan saya, pemandangan lapangan basket serta pepohonan yang rindang berhasil menyejukkan mata ini. Di sebelah kiri, saya melihat sesosok siswi SMA berjilbab berjalan mendekat dengan tongkat. Salah satu kakinya dipasang gips. “Lian?”, ujarku. Lian merupakan salah satu pejabat organisasi sekolah. Beberapa hari yang lalu, dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan salah satu kakinya mengalami retak dan harus di gips selama proses penyembuhan. Saya sendiri tidak terlalu akrab dengan dia meskipun kami sama sama di dalam satu kelas. Tapi melihat dia pagi ini, ada rasa iba yang muncul. Dengan langkah yang gontai, ia berjalan mendekat. Teman teman berusaha untuk membantunya agar dia tidak terjatuh. Saya sendiri masih memandangnya, memperhatikan setiap langkah nya dan berharap dia tidak terjatuh. Semakin lama saya memandangnya, rasa iba itu semakin besar.

Jam sudah menunjukkan pukul 6:45, berarti sebentar lagi lab akan dibuka dan kelas dimulai. Baru juga ‘dirasani’, ibu guru sudah terlihat berjalan dari ruang guru menuju lab biologi. Beliau membuka pintu lab dan dengan seketika teman teman melepas sepatunya, meletakkan di rak sepatu yang sudah disediakan kemudian bergantian masuk ke dalam lab. Saya sendiri berdiri di belakang Lian, melihatnya yang sedang melepas sandal karet warna biru yang dipakainya. Tanpa sadar, saya berusaha membantunya untuk meletakkan sandal itu di rak sepatu sementara ia masuk ke dalam kelas. Sejak saat itulah, saya memulai untuk mengenal Lian.

——————————-

Jika diingat ingat, lucu juga saat itu sikap yang saya tunjukkan padanya 🙂 . Lamunan saya terhenti ketika mendengar suara notifikasi WhatsApp. “Lian: Sekarang lagi sibuk ngurus yang ngga diurus negoromu, Bi”. Hingga kini pun dia masih memanggilku dengan nama itu. Pada akhirnya, kami bertukar PIN BBM karena sepertinya lebih nyaman untuk ngobrol lewat BBM. Obrolan pun berlanjut. Saya pun menanyakan kabar seorang kawan lama yang juga sahabat dari Lian. Saya berusaha untuk menjalin silaturrahim kembali dengan kawan kawan lama yang tanpa sengaja terputus karena kesibukan yang saya miliki.

“Bi, pirang kwintal awakmu saiki (Naik berapa kwintal kamu sekarang) ?”, tiba tiba dia mengomentari DP yang saya pasang sambil tertawa terbahak bahak. Yah, seperti itulah, komunikasi saya dan Lian yang selalu membuat perasaan senang. Semoga komunikasi ini terus terjalin.

(bersambung)


INSTAGRAM
@andikurnia