CAKNIA

Tentang Lian

Semenjak komunikasi dengan Lian terjalin kembali, hari hari saya lalui dengan lebih semangat. Entah karena hal ini disebabkan karena seorang sahabat untuk berbagi cerita telah hadir kembali atau karena perasaan sayang dan rindu yang selama ini terpendam telah sedikit tersampaikan, saya belum tahu pasti. Saya hanya ingin menjalin kembali silaturrahim yang telah terputus selama bertahun tahun, sesederhana itu harapan saya saat ini. Di tengah kebahagiaan ini, tiba tiba saya teringat suatu hal yang penting. “Ah, saya lupa kalau dia punya kekasih yang sangat ia cintai”, ujarku dengan lirih. Ingin saya menanyakan juga kabar kekasihnya, tetapi sepertinya biarlah itu menjadi urusan dia. Saya selalu mendoakan supaya dia selalu mendapat kebahagiaan di hidupnya. Malam itu kami saling berbagi kisah kegiatan yang saya dan Lian kerjakan selama kami putus komunikasi selama ini. Dia menceritakan berbagai kisah perjalanannya ‘babat alas’ di sepanjang pantai selatan Jawa Timur, bagaimana kehidupannya sekarang, serta kegiatan dia sehari hari. Sedangkan saya juga menceritakan aktivitas selama ini yang penuh dengan lika liku. Hingga chat yang awalnya terasa kaku makin lama makin cair dengan pembahasan kami yang hangat ini. Saya kembali teringat bagaimana pertama kali saya mulai mengenal dia.

—————

2007 (Masa SMA)

Sejak mulai mengenal Lian dan memberikan sedikit perhatian saat pelajaran biologi beberapa bulan yang lalu, sepertinya teman teman sekelas mencurigai sikap berbeda yang saya tunjukkan pada Lian. Apalagi setelah itu saya lebih sering mengajak Lian ngobrol meskipun beberapa kali ditanggapi dengan jawaban yang singkat. Seringkali juga saya goda dia saat di dalam kelas ketika sedang bosan. Karena sistem di sekolah yang ‘moving class’ dimana setiap mata pelajaran memiliki ruang kelas yang berbeda, terkadang saya pun mencoba duduk di sebelahnya saat ada kesempatan.  Saya melakukan hal ini karena saya kagum dengan semangatnya yang terus sekolah dengan kondisi salah satu kaki di gips. Selain itu, saya merasa sedikit khawatir kalau kalau dia terjatuh saat ritual “moving class”. Beberapa minggu berlalu, gips di kakinya telah dilepas dan terlihat cara jalannya sudah kembali mendekati normal. Saya senang melihat perkembangan kesehatan kakinya semakin membaik.

Pagi ini kelas dimulai dengan mata pelajaran biologi. Karena pelajaran dimulai dengan teori yang artinya bu guru akan bercerita panjang lebar tentang sistem pencernaan pada manusia, maka saya langsung hilang semangat. Berpangku tangan sambil memandang ke baris depan menjadi hiburan buat saya. “Ndak usah diliatin terus, ga ilang ga Ndi”, celetuk Ahmad yang mengetahui saya daritadi memandang Lian yang duduk di bagian depan ruang kelas. Ahmad merupakan teman sekelas saya, juga partner usil saat bosan melanda di dalam kelas dan dia berteman baik dengan Lian. Ahmad adalah seorang yang sangat periang. Bahkan terkadang saya berpikir kalau dia seperti tidak mempunyai beban apapun di dalam kesehariannya. “Opo ae mad, aku ngeliatin guru ngajar iku lho”, sahutku. “Uwes ta, nek suka langsung ngomong ae, ntar keselip nyesel”, timpalnya. Aku hanya tersenyum malu mendengar ocehannya itu. Meskipun saya tahu bagaimana perasaan saya ke Lian, tapi saya merasa minder mengungkapkannya. Apalagi ketika saya mengetahui tipe cowok yang dia inginkan seperti salah satu pejabat OSIS saat kelas dua dulu, tambah minder hati ini.

Salah satu hal yang saya ketahui setelah mengenal Lian selama beberapa waktu adalah dia suka sekali dengan sajak, saya mengetahuinya saat kami sering saling kirim sms (belum ada bbm dan sebangsanya pada jaman ini). Terkadang, di sela obrolan dia mengirimkan sajak miliknya dan seringkali saya tidak memahami apa yang dia maksud di dalam sajak yang dia kirim. Saya pernah coba tanyakan arti sajak yang dia kirim, tetapi malah dijawab dengan sajak lainnya. Hahaha. Hal itu membuatku kadang berpikir keras untuk memahami setiap makna sajaknya. Tetapi, pelan pelan saya mulai memahami hal itu. Terkadang, sms itu berlanjut sampai tengah malam dan besoknya hampir terlambat masuk sekolah. Bayangkan, bagaimana mahalnya biaya untuk komunikasi melalui sms. Untungnya, paket sms sangat bersahabat di kantong pelajar saat itu. “Kirim 10 sms gratis 10 sms”, begitulah tagarnya. 😀

(bersambung)


INSTAGRAM
@andikurnia