CAKNIA
READING

Jombang dan Segala Kenangan Tentangnya

Jombang dan Segala Kenangan Tentangnya

Catatan Perjalanan Hidup

“Lian, hari ini jadi kesana ndak?”, tanyaku melalui Whatsapp. “Jadi Bi, tapi sek ya agak siangan soalnya lagi rutinitas pagi ini, hehehehe”, jawabnya. “Siap, nanti jam 11 an aku ke rumah ya”, balasku yang kemudian langsung mandi dan bersiap siap menjemput Lian. Siang ini kami akan berkunjung ke Jombang, tempat dimana bibi, pengasuh Lian sejak kecil, tinggal. Beliau sudah dianggap seperti keluarga bagi Lian dan bagiku, beliau merupakan salah satu teman yang asyik untuk diajak ngobrol. Sudah bertahun tahun aku tidak berkomunikasi dengan bibi, semenjak aku menahan diri untuk tidak mengunjungi keluarga Lian kala itu.

=== Enam tahun silam ===

“1 Pesan Diterima”, tulisan itu yang ditampilkan di layar handphoneku. Kubuka folder pesan untuk melihat nama pengirimnya, ternyata dari Lian. “Ndi, aku kangen Bunda”, ketiknya. Sms menjadi salah satu cara komunikasiku dengan Lian yang sekarang berada di sebuah asrama kebidanan yang berjarak tidak jauh dari kampus tempat aku belajar. Kami sering membahas berbagai macam hal melalui sms, terkadang juga saling curhat tentang kehidupan masing masing.

A: “Kunjungi lho, tinggal pulang ke rumah”, balasku yang mengira dia rindu dengan ibu nya.

Lian: “Bukan ndi, bukan emak, aku kangen bibi, Bunda ku yang di Jombang, yang ngasuh aku waktu kecil, udah lama Bunda pulang ke Jombang jadi ndak ketemu lagi di rumah. Pengen nemuin Bunda di Jombang :-(“

A: “Mau kutemenin ke Jombang?, mumpung aku ada waktu beberapa minggu ke depan”

Lian: “Ngga ngerepotin kah?”

A: “Ngga kok, aman :-)”

Lian: “Makasih Ndi, nanti tak kabari lagi kalau pas ngga ada kuliah :-D”

Beberapa hari kemudian setelah Lian memberitahukan bahwa dia memiliki jadwal kosong. Langsung saja aku jemput dia menggunakan motor bebek supra dan kami berdua berangkat ke Jombang dengan hanya berbekal ingatan Lian yang ternyata kali ini sangat tajam. Aku sendiri hanya mengetahui jalan sampai alun alun Jombang karena memang jalan itu yang seringkali kulalui ketika mudik ke kota Reog. Tiga jam lebih perjalanan akhirnya kami sampai di rumah bibi. Rumah yang sederhana di lingkungan pedesaan yang ramah menjadi sebuah pemandangan yang indah di tempat ini. Kami berdua langsung disambut Bibi dan adiknya yang kebetulan berada di rumah tersebut. Lian pun segera turun dari motor dan langsung memeluk bibi untuk melepas rindu. Setelah memarkir motor, aku pun menghampiri mereka dan memperkenalkan diri kepada bibi dan adiknya. Kami berdua pun disuruh masuk ke dalam ruang tamu dan sudah bisa ditebak, pembahasan mereka kebanyakan adalah bahasan untuk wanita yang aku tidak mengerti sama sekali. Sesekali aku iya kan saja bagian yang aku mengerti dan sedikit menimpali dengan sedikit saran. Tiba tiba, bibi bertanya kepada Lian.

Bibi: “Kalian istirahat dulu ya, pulang nanti sore aja”

A + Lian: “Iya bik”

Bibi: “Lian, ini calonmu ya?”

A: “hanya tersenyum dalam hati”

Lian: “Insyaallah bik, hehehehe”

Bibi: “hmmm, ganteng ya. Semoga langgeng kalau gitu”

Lian: “Amiin bik”

Bibi: “Yasudah, kalian kalau mau istirahat, di kamar bisa, atau kalau mau jalan jalan ke sawah di jalan sebelah kiri ya, bibi bikinin minum dulu”

A + Lian: “Makasih ya bik”

Kami menghabiskan waktu seharian di rumah bibi. Lian pun bermanja manja dengan bibi melepas rindunya yang sangat besar. Kami juga berjalan jalan di sekitar rumah bibi, bermain di sawah untuk sekalian melepas kepenatan di perkuliahan sehari hari. Hingga pada akhirnya, aku meminta ijin tidur siang untuk menambah stamina waktu pulang nanti.

“Ndi, bangun. Udah sore ayuk siap siap pulang”, ujar Lian yang berusaha membangunkanku dari mimpi. “Jam berapa ini?”, tanyaku. “Udah jam 4 sore ini, sana cuci muka dulu terus pamitan”. Dengan mata yang masih ngantuk, aku pun bangun dan menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka. Setelah merasa segar, aku pun kembali ke ruang tamu dan melihat Lian sudah siap untuk pamitan pulang. Aku pun juga pamitan dan menyalakan mesin motor untuk bersiap kembali ke kota pahlawan.

====================

“Bi, yuk berangkat”, tegur Lian membuyarkan lamunanku. Siang ini Lian terlihat cantik dengan balutan dress hitam dan rok panjang warna biru tua. Jilbab pink yang dipakainya membuat ia semakin terlihat menawan. “Yuk, mumpung masih cerah”, ujarku. Helm sudah dipakai, perlengkapan sudah dibawa, cadangan jaket dan jas hujan sudah masuk ke dalam jok motor matic, kamipun berangkat menuju Jombang. Perjalanan kali ini, aku lebih banyak diam dan fokus untuk nyetir motor. Di samping mata yang mulai merasakan kantuk, juga sedikit kepikiran tentang rumah yang sedikit bocor saat ditinggal tadi. “Bi, kalau ada warkop mampir ya”, sepertinya Lian juga merasakan hal yang sama. Kamipun berhenti di sebuah warung pinggir jalan dan memesan dua cangkir kopi panas sambil membuka google maps untuk mengingat lagi rute menuju kediaman bibi di desa Spanyol (Sepanyul), Jombang. Aku pun mencoba kembali mengingat ingat lokasi rumah bibi, tetapi gagal total. Lian pun sama lupanya denganku. Kami hanya mengingat gang masuk dan bentuk rumah bibi tetapi kami susah untuk mengingat jalan masuk menuju gang itu. Alhasil kali ini hanya berbekal Google Maps untuk memandu kami menuju desa tersebut. “Semoga nyasarnya ndak jauh”.

Perjalanan kami lanjutkan dan ternyata masuk kota Jombang, hujan turun dengan deras dengan angin yang cukup kencang. Jas hujan masih belum dapat menghindari baju kami dari kebasahan. Akhirnya aku tepikan motor dan berteduh sementara waktu di sebuah warung pinggir jalan sambil menunggu hujan reda sambil berbincang bincang mengenai masa depan. Cukup lama kami mengobrol sampai habis satu porsi bakso yang ternyata abangnya juga berteduh di tempat ini, hujan masih belum reda. Mengingat waktu yang sudah sore, aku mengajak Lian untuk tetap melanjutkan perjalanan di bawah hujan supaya bisa sampai di rumah bibi sebelum Maghrib. Google Maps cukup membantu kami sampai di desa Spanyol. Ternyata, Lian dan aku sama sama tidak bisa mengingat jalan masuknya di sebelah mana. Bahkan kami sempat memutari satu dusun berkali kali untuk mencoba mengingat, hasilnya tetap nihil. Lian pun tidak bisa mengingat siapa nama lengkap bibi, tinggal di kecamatan mana. Hanya panggilan dan foto beliau saja yang masih diingat dengan jelas. Disini kami sudah hampir putus asa karena saat kami tanya kepada warga sekitar, mereka pun bingung dengan sedikit informasi yang kami berikan. Salah seorang warga akhirnya mengantarkan kami ke juru kunci desa tersebut siapa tahu beliau mengetahui siapa yang kami maksud.

Lian kembali menjelaskan tentang Bik Sih kepada juru kunci desa dan beberapa orang yang kebetulan sedang berkumpul di rumah tersebut, dalam bahasa jawa tentunya. Sementara aku, lebih banyak diam karena masih kesusahan untuk berbicara dalam bahasa jawa. Ya, meskipun aku lahir dan besar di Jawa Timur, tetapi sampai sekarang masih kesusahan bicara dalam bahasa jawa. Setelah diskusi panjang lebar, tetap saja warga masih bingung dengan siapa yang kami maksud. Secara tiba – tiba, seorang warga berkata, “Mungkin itu yang ada di kecamatan Sugihwaras”. “NAAAAAAAHHHHH, Sugihwaras”, sontak kami berdua langsung teringat kalau rumah bibi berada di daerah Sugihwaras. Lian langsung menanyakan arah dan warga memberitahukan dengan detil jalan menuju kesana. Setelah mendapatkan informasi yang lengkap, kami berpamitan, berterima kasih dan meminta maaf kepada warga di desa tersebut yang telah kami repotkan sore ini.

Jarak ke Sugihwaras ternyata tidak begitu jauh. Hanya beberapa menit menggunakan motor, kami akhirnya sampai di rumah bibi. Kali ini kami disambut oleh satu keluarga yang menyewa rumah ini. Ya, rumah bibi sudah berganti kepemilikan dan disewakan oleh pemiliknya yang baru. Setelah menyampaikan niat kami untuk menemui bibi, kami diantarkan ke rumah pemilik rumah ini yang ternyata berada di sebelah mushola tidak jauh dari sini. Kami pun berkenalan dengan beliau dan menyampaikan maksud kami berkunjung ke desa ini. Pemilik baru rumah ini bernama Mbah Nah yang masih memiliki hubungan keluarga dengan bibi.

Mbah Nah berbaik hati untuk mengantarkan kami menemui Bibi. Di bawah gerimis, kami berdua diantar berjalan kaki menuju salah satu rumah yang sangat luas tanpa atap di desa ini. “Assalamu ‘ala ahlid diyar,……”, kuucapkan salam untuk menyapa seluruh penghuni disini. Tidak ada jawaban. Mbah Nah langsung mengantarkan kami di salah satu sudut ruangan untuk mencari tempat bibi dimakamkan. Ya, saat ini kami bertiga sedang berada di sebuah area pemakaman, mengunjungi bibi yang telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Setelah menemukan makam dimana bibi dikuburkan, Aku dan Lian berpindah posisi duduk untuk mendoakan bibi. Ya, hanya doa yang dapat kami beri saat ini. Semoga amal dan Ibadah bibi selama di dunia dapat diterima di sisi-Nya. Lian berdiri, bersiap siap untuk kembali, begitupun dengan Mbah Nah. Sementara aku masih berdiri memandangi batu nisan bibi dan berbisik, “Terima kasih bik, waktu itu sudah memberikan petuah yang sangat barharga”. Aku pun berbalik, menyusul Lian untuk kembali ke rumah Mbah Nah. Setelah membersihkan diri, kami berdua segera berpamitan dan melanjutkan perjalanan pulang ke kota pahlawan. Tak lupa kami berterima kasih kepada Mbah Nah atas bantuannya sore ini.

Gerimis dan jalan yang sangat gelap mengantarkan kepergian kami dari desa ini. “Lega sekarang?”, tanyaku pada Lian. “Iya Bi, setidaknya udah tahu makamnya dimana, jadi lain kali kalau kesini lagi sudah ndak ngerepoti orang lain”, jawabnya. “Heem, aku temenin kalau kesini lagi”, imbuhku. Kami pulang ke kota pahlawan dengan perasaan yang sangat lega. Lega karena telah mengetahui cerita tentang bibi. Lega pula karena telah mengingat kembali jalan ke tempat bibi.


INSTAGRAM
@andikurnia