CAKNIA
READING

Kebersamaan di Bulan Agustus (1)

Kebersamaan di Bulan Agustus (1)

“Langkah Tegak Majuuu, Jalan!, Haluan kiriii, grak!, Berhentiii, grak!”. Suara lantang dari mbak ‘danton’ meramaikan suasana disekeliling lapangan basket sekolah siang ini. Saya sendiri berada di dalam barisan mengikuti arahan danton dan berusaha menyamakan langkah dengan anggota lainnya. Teriknya matahari siang ini tidak menyurutkan semangat kami berlatih. Seluruh arena lapangan basket menjadi medan tempur kami membentuk barisan dan melakukan formasi. Tiang bendera di sisi kanan lapangan basket menjadi titik pusat formasi. Pak Adi selaku pembina sekaligus pelatih kami selalu memberikan saran dan latihan yang cukup keras. Ya, paskibraka merupakan salah satu ekstra kulikuler yang saya ikuti sejak kelas dua SMA selain IT dan voli. Berbagai perlombaan dan aktivitas telah dilalui dalam paskibraka. Bagaimanapun rintangannya, entah hujan, panas, ataupun badai, saat telah berada di medan tempur , maka tim harus tetap melangkah hingga sampai pada tujuan akhir bersama sama. Begitulah yang diajarkan pada tim.

“Siap!, Satu satu! Dua dua! Tiga tiga! Empat empat! Lima lima! Enam enam! Tujuh tujuh! Delapan delapan! Sembilan sembilan! Sepuluh sepuluh! Sebelas sebelas!”, begitulah cara kami melakukan periksa kerapian dari ujung kaki sampai ujung rambut di dalam barisan paskibraka. Latihan dilanjutkan dengan mencoba formasi barisan terbaru hingga pada akhirnya latihan penuh untuk pengibaran sangsaka merah putih. Belakangan ini, latihan sering dilakukan bahkan saat jam istirahat siang karena kami sedang mempersiapkan diri untuk  mengikuti upacara kemerdekaan di kecamatan yang tinggal beberapa hari lagi sekaligus beberapa perlombaan dalam waktu dekat.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13:00. Terlihat dari lapangan, bapak ibu guru keluar dari ruang guru, berjalan menuju ruang kelas yang diajarnya. Teman teman yang duduk santai di lorong sekolah sudah terlihat masuk ke kelas masing masing. Pak Adi pun membubarkan latihan siang ini. Kami kembali ke kelas masing masing.

Latihan siang ini cukup membakar lemak yang ada di tubuh. Keringat bercucuran membasahi baju putih seragam SMA yang saya pakai. Untungnya, siang ini merupakan pelajaran bahasa inggris yang bertempat di dalam ruang ber AC. “Good Afternoon, student”, Mr. AB yang merupakan guru bahasa inggris sudah sampai di ruang kelas. Sambil membuka pintu kelas, ia sesekali berbincang dan menggoda siswi siswi yang berada di dekatnya. Sifatnya yang mudah berbaur dengan siswa siswi membuatnya banyak disukai oleh teman teman. Setelah pintu terbuka, saya dan teman teman masuk ke dalam kelas. Saya duduk di sebelah Ahmad. Nafas  saya masih “ngos ngosan” karena latihan siang ini. Meskipun AC sudah dinyalakan, tetapi masih belum cukup untuk membuat gerah ini hilang. Buku tulis akhirnya saya jadikan kipas untuk membuat lebih sejuk.

“Ndi, terusno sing banter ngipasine”, ahmad nyeletuk. “Hahaha, kipas dewe lah. Kudune kau yang ngipasi aku, sumuk iki”, balasku. Ruang kelas ini mirip dengan tempat les lesan dimana setiap kursi memiliki meja yang dapat dilipat dan terdapat ruang dibawahnya untuk menempatkan tas. Di bagian paling depan ruangan ini, terdapat papan tulis portable yang mudah untuk dipindah kemanapun. Meja guru berada tepat di samping papan tulis yang memudahkan beliau memantau gerak gerik siswa siswinya saat mengajar. Di deret paling depan, seperti biasa ditempati siswa siswi paling rajin di kelas. Fani, Ima, Indra, dan Eka adalah beberapa siswa yang seringkali duduk di deretan paling depan. Entah alasan apa yang menjadikan mereka suka sekali duduk di deretan paling depan, bahkan saya sendiri kurang begitu menyukai tempat duduk paling depan. Alasannya tentu saja, deret depan selalu menjadi yang pertama kali dikenal oleh guru sehingga menjadi yang pertama kali disuruh suruh oleh guru. Selain itu, karena postur tubuh saya yang cukup tinggi, duduk di deretan depan merupakan penyiksaan terhadap teman yang duduk tepat di belakang saya. Saya sendiri lebih suka duduk di daerah tengah ke belakang. Selain ruang gerak menjadi lebih bebas, saya juga dapat memperluas pandangan serta mengamati situasi dan kondisi di dalam kelas. Saya jadi mengetahui siapa yang paling rajin mendengarkan guru mengajar, siapa yang kerjaannya menggambar, serta siapa yang seringkali meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung. “Dimana Lian?”, saya tidak melihat Lian di dalam kelas ini. “Nggolek Lian ta (Cari Lian kah)? Di sekretariat OSIS paling dia”, sahut Ahmad seakan mengerti siapa yang saya cari.

Pelajaran Mr. AB seperti biasa selalu dipenuhi dengan canda tawa. Hal ini mungkin karena sifat Mr. AB yang mudah sekali membaur dengan siswanya dan pandai mencairkan suasana di dalam kelas. Bahkan saya yang biasanya pada jam pelajaran siang selalu mengantuk, kali ini juga turut merasakan bagaimana meriahnya pelajaran di siang bolong. Waktu satu setengah jam pun terasa sangat cepat. Mr. AB sudah menutup sesi pelajaran siang ini. Kami pun bersiap siap akan meninggalkan kelas. “Eh eh , sek rek (tunggu sebentar rek) !”, Wawan secara tiba tiba menghentikan kami yang akan berdiri dari tempat duduk untuk memberikan sebuah pengumuman.

Wawan: “Rek, memperingati agustusan sekolah ngadain lomba rek, setiap kelas wajib ikut semua lombanya”

Ahmad: “Lomba apa ae Wan?” (dengan semangat 45)

Wawan: “Banyak ini, lomba menghias kelas, lomba benteng bentengan, lomba makan krupuk, lomba pensil botol,, lomba mading dan masih banyak lagi”

Ahmad: “Aku mau ikutan lomba makan krupuk Wan”

Saya: “Lomba makan ae cepet kamu Mad, kampret emang”

Ahmad: “Wo iya, penting itu…”

Saya: “hahahahaha…..”

Mendengar dialog itu, seisi ruangan langsung dipenuhi dengan tawa yang meriah. Wawan menjelaskan lebih lanjut bahwa pada tahun ini, lomba mading dan lomba menghias kelas akan menjadi lomba yang paling banyak menguras waktu dan tenaga sehingga teman teman satu kelas diminta kerjasama dan kontribusi pada perlombaan ini.

Saya: “Wan, lomba menghias kelas ini kita dapat kelas yang mana? Kan tiap kelas ngga punya kelas tetap nih gara gara sistem moving class”

Wawan: “Kebetulan kita dapat kelas pas di sebelah ruang OSIS”

Eka: “Wah, sip itu ada projectornya”

Saya: “Wah iyo, kita bisa manfaatin nanti itu projector, mau bikin kelas digital ta?”

Eka: “kwkwkwkwk, sip nanti bisa dibahas”

Wawan: “Diatur ae rek nanti”

Ahmad: “Dipasangi game Counter Strike entar”

Saya + Eka: “Gundulmu mad, hahahaha”

Kelas di sebelah ruang OSIS merupakan salah satu kelas yang memiliki perangkat komputer dan proyektor yang cukup canggih. Kelas ini terletak di seberang ruang kelas kami saat ini dan menghadap ke arah lapangan basket. Sepertinya, lomba menghias kelas dan membuat mading ini nanti akan menjadi ajang pameran masing masing kelas menunjukkan kreativitasnya. “Trus, Mading e ini nanti gimana?”, celetuk Layla. “Dipasang dimana, tema apa, trus nanti mau dibawa kemana?”, imbuhnya. Layla merupakan cewek yang sangat kritis dalam hal seperti ini. Dia cukup cerewet dan kreatif dalam membuat sebuah karya. Seringkali dia mengikuti perlombaan debat ilmiah serta bahasa inggris dan beberapa kali pernah menyabet gelar juara.

Wawan: “Diatur ae entar La, enake gimana, entar yang penting madingnya di tempatin di dalam kelas kita yang dihias. Sekalian jadi satu gitu”

Layla: “Woh oke, lah tapi entar lak ga ada yang ngeliat kalau ngga masuk ke kelas”

Wawan: “Lha pengenmu gimana, emang kan kudu masuk kelas dulu baru bisa ngeliat mading kita”

Layla: “Ga seru ah, pengenku orang orang bisa ngeliat mading kita meski ga masuk kelas kita”

Ahmad: “Pasang ndek depan kelas wae, itu tembok e sik mulus”

Layla: “Hiks, tetep ae, nek pas masuk kelas lak malah ga keliatan madinge”

Wawan: “Bikin ae mading berjalan, hahahahaha”

Layla: “Ide bagus, wkwkwkwkk”

Dan begitulah, akhirnya ide awal mading berjalan muncul karena candaan khas anak muda. Bahasan tentang perlombaan pada akhirnya ditunda sementara karena pintu ruang kelas akan segera dikunci oleh Mr. AB. Kami dengan segera keluar dari kelas itu dan bersiap menuju kelas selanjutnya. Dan, saya masih memikirkan bagaimana bentuk dari mading berjalan itu hingga jam sekolah hari ini usai.

(bersambung)


INSTAGRAM
@andikurnia