CAKNIA
READING

GHOST: Pendaratan Pertama di Pulau Madura

GHOST: Pendaratan Pertama di Pulau Madura

Minggu (18/03/2012) kemarin menjadi pendaratan pertama para anggota GHOST (Gangster Hamlet of Science Two), teman-teman seperjuangan semasa SMA, ke Pulau Madura. Keberangkatan yang seharusnya pada pukul 07.00 WIB harus molor selama satu jam dikarenakan kendala teknis (bangun kesiangan, hehehe…). Pada akhirnya, perjalanan dimulai pukul 08.00 WIB dengan 8 orang personel yang hadir pada saat itu dengan mengendarai 4 buah sepeda motor dari Surabaya.
Jalanan pra Jembatan Suramadu
Perjalanan pun dimulai menuju Madura dengan perhentian pertama di Pantai Siring Kemuning. Pantai Siring Kemuning berada di daerah Tanjung Bumi, Bangkalan. Setelah hampir 3 jam perjalanan, menyeberang jembatan Suramadu dan melewati beberapa daerah di Madura yang sebagian besar kawasan masih berupa areal persawahan, akhirnya sampailah kami di Pantai Siring Kemuning. Memasuki Pantai ini dikenai biaya parkir dan total saya merogoh kocek Rp 18.000,- untuk 6 orang dan 3 buah motor dikarenakan 2 orang lainnya berhenti di tengah perjalanan untuk menunggu beberapa teman dari Bangkalan.
Pantai Siring Kemuning

Sisi Lain Pantai Siring Kemuning

Memorial Place

we are G.H.O.S.T

Setelah melewati pintu masuk, yang terlihat adalah hamparan pantai yang luas. Sayangnya kondisi pantai ini kurang terawat, bebatuan karang tercecer hampir di seluruh badan pantai, sehingga mengurangi keindahan pantai ini. Bagaimana pun juga saat melihat pantai yang luas, kami ber-enam pun langsung melepas alas kaki, melipat celana hingga mencapai lutut, dan tanpa sabar teman-temanku berlari menuju air laut. Sementara aku mencari tempat duduk untuk meregangkan tubuh beberapa menit sembari menikmati pemandangan pantai ini dimana setengah tahun yang lalu juga aku kunjungi bersama seorang mantan kekasih. Bagiku pantai ini merupakan tempat awal mula perpisahan dengan mantan kekasih, penuh kenangan dan juga menyimpan beberapa luka. Back to Topic. Beberapa waktu berselang, Dua orang teman kami datang dan membawa dua orang temannya dari Bangkalan sebagai tour guide. Setelah puas menikmati pantai, berfoto-foto ria dan merasakan rujak di warung pinggir pantai, perjalanan pun dilanjutkan menuju Hutan Kera Nepa.

Hutan kera Nepa berjarak kira – kira setengah jam perjalanan menggunakan motor dari Pantai Siring Kemuning. Akses masuk menuju hutan kera Nepa ini cukup mblusuk (terpelosok) dari jalan raya dan terletak dekat dengan pantai. Motor akhirnya harus diparkir di rumah warga setempat karena tidak bisa masuk lebih jauh lagi menuju hutan kera diakibatkan pintu masuk yang dikelilingi oleh pasir pantai. Gerimis mengiringi perjalanan di dalam hutan kera dengan dipandu oleh dua orang warga sekitar yang juga sebagai penjaga hutan kera. Untungnya pepohonan di dalam hutan ini rindang sehingga kami semua dapat terhindar dari hujan gerimis. Salah satu hal yang unik dari kera-kera di dalam hutan ini adalah mereka berkumpul saat penjaga hutan tersebut memanggil mereka dan memberinya makan. Seperti biasa, kami mengambil beberapa foto untuk dijadikan kenang-kenangan.

Pantai Sebelum Pintu Masuk Hutan Kera
Pintu Masuk Hutan Kera Nepa
Jalan Setapak dalam Hutan
monyet monyet… 🙂

Puas berekspresi di dalam hutan ini bersama para kera, kami pun mengakhiri perjalanan kali ini karena memang hari sudah sore menjelang malam. Tapi sebelum pulang, kami mampir terlebih dahulu makan di Bebek Sinjay yang terkenal itu. Rumah makan ini terletak di pinggir Jalan Utama arah Bangkalan tidak jauh dari Jembatan Suramadu. Memang benar rumor yang beredar, rumah makan ini tak pernah sepi pengunjung karena memang masakannya sangat enak di lidah. Untuk satu porsi Nasi Bebek Sinjay + Teh Botol cukup merogoh kocek Rp 20.000,- dan sudah bisa membuat perut kenyang.

Bebek Sinjay nih…. 🙂

Copyright: andikurnia@2012

INSTAGRAM
@andikurnia