Ayam Goreng Mbok Mi, Makanan Wajib saat Berkunjung ke Ponorogo

Selain Nasi Pecel, sudah beberapa kali ini saya selalu menikmati kuliner ayam goreng ketika mampir Ponorogo. Pertama kali diajak sanak keluarga untuk makan di Ayam Goreng Mbok Mi, akhirnya saya ketagihan dan menjadikan rumah makan ini menjadi salah satu destinasi wajib setiap mampir Ponorogo.

Ayam goreng Mbok Mi terletak di kecamatan Babadan, Ponorogo. Setelah memasuki gerbang Ponorogo dari arah Madiun, lurus beberapa kilometer sampai menemukan Kantor Pos Babadan. Rumah makan ini terletak di dalam gang sebelah kantor pos.

Penyajian di rumah makan ini mirip seperti penyajian di restoran padang. Setiap jenis masakan disajikan dengan piring terpisah. Untuk ayam goreng juga disajikan di piring terpisah. Hal yang paling saya suka adalah porsi nasi yang disajikan lebih dari cukup untuk membuat penuh perut.

Untuk masalah harga, dua ekor ayam goreng beserta daun singkong, sayur terong, sayur tempe, satu wakul nasi putih serta dua minuman es teh manis, saya cukup membayar sekitar 130 ribu. Harga ini terbilang cukup murah di kantong

Ayam Goreng Mbok Mi buka dari pagi hari hingga sore hari pukul 16.30. Tetapi sebaiknya temen temen tidak datang kesini terlalu sore karena beberapa sayur dan ayam pasti ada aja yang sudah ludes. Apalagi ketika musim liburan tiba, Ayam goreng Mbok Mi laris manis diserbu banyak pelancong dan pemudik dari luar kota. Terakhir saya mampir ke tempat ini agak sedikit menyesal karena cukup banyak sayur pelengkap yang sudah habis padahal masih jam makan siang.

Loeminto Roemah Coffee, Tempat Nongkrong Vintage di Malang

LoeMinToe Cafe

Berawal dari waktu senggang bersama beberapa orang kawan, weekend siang ini saya nongkrong di tempat yang berbeda dari biasanya. Langsung Malang menjadi tujuan utama kali ini. Awalnya kami berniat untuk mampir langsung ke salah satu Bakso terkenal di kota ini, Bakso Damas. Tetapi karena kepagian dan masih tutup, akhirnya kami mencari tempat dulu untuk nongkrong.

Browsing tempat nongkrong di mbah google, akhirnya kami menemukan tempat yang tergolong vintage ini, Loemintoe Cafe. Terletak di pinggiran Perumahan Tata Surya tepat di belakang kampus Universitas Negeri Malang, lokasi tempat ini terbilang berada di paling ujung perumahan tepat di pinggiran sungai yang airnya mengalir cukup deras.

LoeMinToe Cafe
LoeMinToe Cafe

Kesan pertama ketika memasuki tempat ini adalah nuansa vintage yang sangat kental. Hampir di seluruh sudut tempat ini dipenuhi barang barang dari tahun 90an. Tidak hanya itu, meja, kursi hingga pintu di setiap ruangan pun terlihat sangat jadul tetapi masih terbilang sangat oke. Belum lagi koleksi barang barang seperti piringan hitam, telepon putar, pajangan dinding, hingga lampu khas tahun 90-an menambah kentalnya nuansa vintage. Saya seperti terkenang ketika berada di rumah mbah buyut di pedesaan.

Meskipun demikian, makanan, minuman, dan camilan yang tercantum di daftar menu cukup kekinian. Kami memesan berbagai macam camilan yang terbilang cukup kekinian. Pisang Coklat, Kopi Vietnam, es Cappucino, dan beberapa minuman segar lainnya. Untuk rasa, standard camilan cafe. Yang paling penting adalah harga di tempat ini tidak terlalu mahal bagi saya dimana keseharian berada di Surabaya.

Pisang Coklat
Frapuccino (kalau tidak salah)

Bagi teman teman yang mungkin bosan dengan tempat nongkrong di kawasan Malang, mungkin bisa mampir ke sini. Tempat ini sangat tepat dikunjungi untuk sejenak bersantai menghindari hiruk pikuk kemacetan kota sambil mengobrol tentang masa depan, Ceileh!

Mengintip Sejarah Garam dan Tembakau di Tobacco & Salt Museum, Tokyo

Kurang lebih seminggu berada di Jepang, saya berkesempatan mengunjungi beberapa landmark serta tempat wisata di kawasan Tokyo. Salah satu tempat yang menarik perhatian saya adalah sebuah museum yang juga merupakan sebuah tempat pembuatan rokok tembakau dan pengolahan garam, Tobacco & Salt Museum.

Banyak hal yang membuat saya tertarik untuk mengunjungi museum yang terletak tidak begitu jauh dari Sky Tree Tower. Museum ini dapat ditempuh dalam waktu 10 menit berjalan kaki dari Sky Tree Tower.

Dengan merogoh kocek sekitar 100 yen, kami dapat melihat dan mempelajari sejarah tembakau dan garam di Jepang. Terdapat beberapa macam hal yang bisa dilihat di dalam museum, antara lain:

Kelas Edukasi Anak Anak

Di dalam museum ini terdapat beberapa spot untuk edukasi bagi anak anak. Salah satu edukasi yang terdapat di dalam museum ini adalah edukasi tentang kadar garam dalam air. Peserta yang rata rata adalah anak anak berumur 5 – 12 tahun diajarkan tentang bagaimana mengukur kadar garam menggunakan sebutir telur dan air dalam baskom.

Ruang Sejarah Pembuatan Garam

Terdapat satu ruangan yang berisikan berbagai diorama pembuatan garam di berbagai belahan dunia. Di ruangan ini dijelaskan bermacam macam jenis garam beserta kandungan mineral yang terdapat di dalamnya.

Ruang Sejarah Tobacco di Jepang

Pada ruangan ini terdapat berbagai macam rokok yang pernah dibuat di perusahaan pemilik museum ini. Hal yang paling saya suka dari ruangan ini adalah terdapat monitor panjang dengan etalase rokok di bawahnya yang dijajarkan dari tahun pembuatan terlama hingga terbaru. Ketika telapak tangan ditempelkan di atas salah satu rokok, maka layar monitor akan menampilkan detail rokok tersebut beserta sejarah pembuatannya dengan animasi yang ciamik.

digital platform: sejarah tobacco di Jepang

Ruang Koleksi

Di dalam ruangan ini dipamerkan berbagai macam pemantik. Terdapat koleksi pemantik dari yang jadul hingga kini.

Ruang Audio Visual

Sayangnya saat berkunjung, saya tidak sempat masuk ke dalam ruangan ini. Ruangan ini merupakan sebuah ruangan audio visual yang biasanya dipakai untuk konferensi atau pertemuan pertemuan lainnya.

duduk santai di lorong museum

Ruang Baca

Di lantai 4 dan 5, terdapat ruang baca bagi orang orang yang membutuhkan ketenangan dalam membaca buku. 

Setelah puas berkeliling melihat lihat sejarah tembakau dan garam, kami memutuskan untuk keluar dan beristirahat. Sebelumnya tak lupa kami mengambil garam kristal yang memang sengaja dibagikan kepada pengunjung museum.

Onokabe Restaurant, All You Can Eat dengan Menu Serba Ada

Onokabe Restaurant Surabaya

Persaingan restoran bertema All You Can Eat sepertinya semakin ketat di Surabaya. Katakanlah Hanamasa dan Cocari yang bertengger cukup lama, ditambah Shaburi Kintan dan masih banyak lagi yang tersebar di seluruh penjuru kota. Beberapa bulan belakangan ini pun, muncul satu lagi restoran bertema All You Can Eat di pusat kota, Onokabe Restaurant. Restaurant ini masih berada dalam satu grup dengan Shaburi Kintan tetapi lebih menyasar berbagai kalangan masyarakat.

Onokabe Restaurant Surabaya
Onokabe Restaurant Surabaya

Bertempat di Gedung Praxis Surabaya yang baru selesai dibangun, Onokabe Restaurant yang baru saja buka akhir tahun lalu ini terbilang cukup ramai di saat lunch maupun dinner.

Onokabe Restaurant Surabaya

Dengan sajian 40 masakan lebih yang terbagi menjadi tiga menu yaitu menu prasmanan, suki dan grill membuat saya sendiri cukup tergiur untuk mengunjungi dan mencicipi semua makanan yang ada di restaurant ini. Pada menu grill terdapat beraneka ragam makanan laut seperti udang, kerang, ikan, dan cumi. Ditambah juga dengan daging ayam dan sapi dengan beraneka ragam bumbu. Pada menu prasmanan juga terbilang cukup lengkap. Nasi & mie goreng, capcay, masakan balado, sate jepang, dan masih banyak lagi.

Panggang Panggang Sendiri
Rebus Rebus Sendiri
aneka ragam soup untuk suki

Di restaurant ini juga terdapat menu bebek panggang yang tentunya juga bisa dinikmati secara bebas. Dari kabar yang beredar, kambing panggang juga tersedia di restoran ini. Akan tetapi, sayang sekali saya tidak menemukan menu tersebut ketika saya makan disini. Mungkin next time saya mampir lagi!

Bebek Panggang Kecap

Satu hal yang saya suka dari restoran ini adalah terdapatnya converyor belt, atau ban berjalan yang berisi aneka bakso (ayam, cumi, daging, ikan), aneka mie, sayuran, kani, hingga tofu.

Tak lupa juga pencuci mulut seperti rujak buah ataupun asinan bandung serta es krim layak dicicipi saat berada di sini.

Untuk harganya, semua sajian masakan tersebut (grill, suki dan prasmanan) dapat dilibas dengan harga mulai Rp 157 ribu per orang, berlaku hari biasa pukul 10.00-17.00 WIB dan Rp 167 ribu per orang berlaku di akhir pekan.

Harga untuk Suki dan Grill. Tidak Termasuk Prasmanan

Eksotisme Pulau Gili Labak Sumenep

Pulau Gli Labak

Setelah beberapa lama tidak ngetrip ramai ramai, kali ini akhirnya saya dan beberapa teman di kantor sepakat untuk melakukan trip seharian ke daerah Sumenep, Madura. Kami mengunjungi salah satu pulau di sekitar Sumenep yang menjadi destinasi wisata favorit wisatawan lokal dan mancanegara, Pulau Gili Labak. Gili Labak menjadi salah satu destinasi wisata snorkeling dan penelitian bawah laut di Indonesia. Tidak salah, cukup banyak bagian dari pulau ini yang memiliki nilai lebih di mata wisatawan.

Pulau Gili Labak
Pulau Gili Labak

Perjalanan menuju Pulau Gili Labak dapat ditempuh selama kurang lebih lima jam perjalanan darat dan dua jam perjalanan laut. Saya dan teman teman berangkat dari Stasiun Gubeng Surabaya pukul 01.00 dini hari menggunakan jasa travel menuju Pelabuhan Tanjung Madura, tempat penyeberangan menuju Gili Labak. Mungkin karena berangkat dini hari di saat jalanan sepi atau supir travel yang kami naiki adalah mantan supir bus sumber k*nc*n*, perjalanan yang seharusnya ditempuh selama lima jam, kali ini hanya ditempuh selama tiga jam saja. Cukup menakutkan.

Kami tiba di Pelabuhan Tanjung menjelang matahari terbit. Sembari menunggu kapal perahu yang akan mengantarkan kami menyeberang, saya berkeliling terlebih dahulu untuk mengambil beberapa foto kondisi sekitar penyeberangan

Menyeberang menuju Gili Labak membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan laut dimana kami akan transit terlebih dahulu di Pulau Gili Genting untuk sarapan dan menikmati pemandangan di pagi hari.

Puas bersantap sarapan pagi, perjalanan menuju Pulau Gili Labak dilanjutkan kembali. Menggunakan perahu yang sama, kami kembali menempuh perjalanan laut kurang lebih satu jam. Ombak yang cukup keras memaksa saya untuk tidur selama perjalanan.

Saya terbangun ketika perahu bergesekan dengan pasir di tepian pantai. Yap, kami telah sampai di Gili Labak. Kesan pertama yang saya dapati dari pulau ini adalah hamparan pasir putih sepanjang pantai. Air laut di sekitar pantai pun terlihat sangat bening sehingga tak jarang ikan ikan yang sedang berenang kesana kemari dapat terlihat dari atas perahu.

Menelusuri pesisir pantai yang mengitari Pulau Gili Labak membutuhkan waktu kurang lebih satu jam berjalan kaki. Jangan lupa untuk memakai topi dan sunblock saat berkeliling untuk menghindar dari panas matahari. Cukup banyak pula spot untuk berswafoto ria di sepanjang pantai. Terdapat banyak sekali kursi pantai beserta meja dan payung yang melindungi dari panas.

Pantai di Gili Labak
Pantai di Gili Labak
Perahu Perahu Bersandar di Gili Labak
Perahu Perahu Bersandar di Gili Labak
Tetap Jaga Kebersihan selama di Gili Labak
Tetap Jaga Kebersihan selama di Gili Labak
Berkeliling Pulau Gili Labak
Berkeliling Pulau Gili Labak

Spot snorkeling di sekitar Pulau Gili Labak pun menjadi salah satu favorit kami. Berjarak beberapa ratus meter dari bibir pantai, dari atas perahu karang karang di dasar laut terlihat samar samar. Pemandu kami menjadi orang pertama yang turun ke laut diikuti oleh teman teman. Saya menjadi orang terakhir yang turun ke laut dan menyelam menyaksikan keindahan laut Gili Labak. Karang karang masih terbentuk dengan alami dengan beraneka ragam ikan laut berenang mengitari karang karang. Sayangnya, saya tidak mampu untuk berenang terlalu lama menikmati keindahan bawah laut kali ini.

Tidak perlu khawatir mencari tempat bersih bersih setelah snorkeling, karena di Pulau Gili Labak sudah disediakan kamar mandi umum dan toilet untuk dipakai oleh pengunjung. Sayangnya, air di dalam bak mandi adalah air laut. Jika ingin mandi menggunakan air tawar, anda akan di cas sekitar 8000 rupiah untuk satu jerigen air tawar. Lapar? tidak masalah juga, terdapat warung warung yang menyediakan masakan lokal di pulau ini.

Perjalanan kali ini kami akhiri dengan tidur sepanjang perjalanan pulang ke Surabaya. Ciao!

Tips Internetan Murah dan Hemat saat Bepergian ke Jepang

Internet Internasional

Pada postingan sebelumnya, saya menceritakan sedikit bagaimana keseharian selama berada di Tokyo, Jepang. Banyak sekali kawan yang bertanya kepada saya tentang bagaimana cara saya online sepanjang waktu, update story instagram, serta posting keseharian saya di HelloTalk. Ada banyak sekali cara yang dapat dilakukan supaya dapat selalu online. Kali ini saya akan sedikit share pada teman teman disini.

Aktifkan Paket Roaming

Cara yang pertama adalah dengan mengaktifkan paket roaming. Roaming merupakan salah satu cara supaya nomor anda dapat digunakan ketika berada di luar negeri dengan meminjam jaringan perusahaan rekanan operator di negara tujuan. Rata – rata smartphone terkini, baik itu android ataupun iPhone sudah dapat menggunakan fasilitas roaming sehingga ini menjadi salah satu cara paling mudah supaya dapat internetan 24 jam tanpa mengganti nomor.

Aktivasi Roaming di Smartphone
Aktivasi Roaming di Smartphone

Sebelum berangkat dari Indonesia, cek terlebih dahulu pada operator telepon anda apakah tersedia paket roaming yang dapat digunakan untuk negara Jepang. Hindari menggunakan paket roaming pada kartu pascabayar untuk menghindari tagihan anda bobol. Untuk pemakaian 7 hari, rata rata anda akan mengeluarkan biaya sekitar 200 ribu – 500 ribu rupiah tergantung operator yang anda pakai.

Paket Roaming Telkomsel Prabayar

Setelah menghitung biaya yang harus saya keluarkan, saya sendiri memilih menggunakan paket roaming XL selama satu minggu berada di Jepang.

Membeli Kartu Prabayar Jepang

Cara lain untuk menikmati internet adalah dengan membeli kartu prabayar Jepang. Saya sendiri tidak menyarankan memakai cara ini karena harus membuka slot kartu sim dan mengganti sim card dengan nomor baru. Sim card prabayar dapat dibeli di Bandara tujuan seperti Haneda atau Narita tetapi yang harus diingat adalah anda harus memesan sebelum hari kedatangan.

Sewa Modem Wifi

Untuk cara ini, dapat dilakukan pada bandara keberangkatan internasional (Soekarno Hatta – Jakarta) atau pada bandara tujuan di Jepang (Haneda / Narita). Biaya yang harus anda keluarkan di atas 300 ribu rupiah. Jika anda menggunakan cara ini, anda harus siapkan powerbank untuk mengecas modem wifi. Jangan lupa untuk mengembalikan modem wifi tersebut sebelum kembali ke Indonesia.

Manfaatkan WiFi gratis di ruang publik

Tempat tempat umum, seperti bandara, konbini (supermarket), stasiun, restoran, dll, di kota kota besar seperti Tokyo, memiliki wifi gratis yang dapat anda pergunakan. Rajin rajin cek ketersediaan wifi ketika berada di tempat umum. Hal pertama yang saya lakukan ketika tiba di Bandara Haneda adalah menyambungkan smartphone ke wifi bandara untuk dapat menghubungi orang orang kantor kalau saya sudah tiba dengan selamat.

Itulah beberapa cara agar dapat selalu online selama berada di Jepang. Sampai jumpa di postingan saya selanjutnya, salam sukses!