Mengintip Sejarah Garam dan Tembakau di Tobacco & Salt Museum, Tokyo

Kurang lebih seminggu berada di Jepang, saya berkesempatan mengunjungi beberapa landmark serta tempat wisata di kawasan Tokyo. Salah satu tempat yang menarik perhatian saya adalah sebuah museum yang juga merupakan sebuah tempat pembuatan rokok tembakau dan pengolahan garam, Tobacco & Salt Museum.

Banyak hal yang membuat saya tertarik untuk mengunjungi museum yang terletak tidak begitu jauh dari Sky Tree Tower. Museum ini dapat ditempuh dalam waktu 10 menit berjalan kaki dari Sky Tree Tower.

Dengan merogoh kocek sekitar 100 yen, kami dapat melihat dan mempelajari sejarah tembakau dan garam di Jepang. Terdapat beberapa macam hal yang bisa dilihat di dalam museum, antara lain:

Kelas Edukasi Anak Anak

Di dalam museum ini terdapat beberapa spot untuk edukasi bagi anak anak. Salah satu edukasi yang terdapat di dalam museum ini adalah edukasi tentang kadar garam dalam air. Peserta yang rata rata adalah anak anak berumur 5 – 12 tahun diajarkan tentang bagaimana mengukur kadar garam menggunakan sebutir telur dan air dalam baskom.

Ruang Sejarah Pembuatan Garam

Terdapat satu ruangan yang berisikan berbagai diorama pembuatan garam di berbagai belahan dunia. Di ruangan ini dijelaskan bermacam macam jenis garam beserta kandungan mineral yang terdapat di dalamnya.

Ruang Sejarah Tobacco di Jepang

Pada ruangan ini terdapat berbagai macam rokok yang pernah dibuat di perusahaan pemilik museum ini. Hal yang paling saya suka dari ruangan ini adalah terdapat monitor panjang dengan etalase rokok di bawahnya yang dijajarkan dari tahun pembuatan terlama hingga terbaru. Ketika telapak tangan ditempelkan di atas salah satu rokok, maka layar monitor akan menampilkan detail rokok tersebut beserta sejarah pembuatannya dengan animasi yang ciamik.

digital platform: sejarah tobacco di Jepang

Ruang Koleksi

Di dalam ruangan ini dipamerkan berbagai macam pemantik. Terdapat koleksi pemantik dari yang jadul hingga kini.

Ruang Audio Visual

Sayangnya saat berkunjung, saya tidak sempat masuk ke dalam ruangan ini. Ruangan ini merupakan sebuah ruangan audio visual yang biasanya dipakai untuk konferensi atau pertemuan pertemuan lainnya.

duduk santai di lorong museum

Ruang Baca

Di lantai 4 dan 5, terdapat ruang baca bagi orang orang yang membutuhkan ketenangan dalam membaca buku. 

Setelah puas berkeliling melihat lihat sejarah tembakau dan garam, kami memutuskan untuk keluar dan beristirahat. Sebelumnya tak lupa kami mengambil garam kristal yang memang sengaja dibagikan kepada pengunjung museum.

Seminggu Menjajal Kehidupan di Tokyo, Japan

Sumida River Bridge (隅田川橋)

Awal bulan ini, saya dan salah satu rekan kantor ditugaskan untuk bekerja di kantor induk kawasan Tokyo selama kurang lebih seminggu dalam rangka mengenal cara kerja dan kondisi di kantor induk saat ini. Berbagai kelengkapan dokumen sudah dipersiapkan sejak sebulan sebelumnya oleh HR department di Surabaya untuk keperluan keberangkatan kami. Selama berada di Tokyo, saya mendapatkan banyak sekali pelajaran yang tidak saya dapatkan di Indonesia.

Shock Culture

Saya mengalami shock culture ketika tiba di Tokyo. Hampir seluruh warga di kota ini berjalan kaki, baik itu ke kantor, sekolah, ataupun ke tempat tempat lain yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Kendaraan pribadi yang terlihat di jalan raya sangatlah sedikit sehingga macet menjadi hal yang tidak terlihat sama sekali selama menginjakkan kaki di Tokyo. Pengemudi mobil pun rata rata lebih mengutamakan pejalan kaki jika dibandingkan dengan Jakarta ataupun Surabaya. Baru disini saya melihat pengemudi yang langsung mengerem ketika melihat di depan ada pejalan kaki yang sedang menyeberang jalan. Biasanya kalau di Surabaya sih sudah di klakson disuruh minggir dari jalan, hahahaha. Hal lain yang saya kagumi adalah tingkat kedisiplinan dari masyarakat di negara ini. Antrian dimanapun sangat rapi mengular tanpa ada yang namanya menyerobot antrian.

Tempat Tinggal

Selama berada di Tokyo, kami bertempat tinggal di daerah Tsukishima yang berjarak tiga stasiun dari kantor yang berada di kawasan Shiodome. Kami menempati fasilitas asrama yang berada tepat di sebelah Sumida River. Cukup ketat akses masuk ke dalam asrama ini. Kami diberikan kartu akses untuk masuk ke dalam asrama dan kunci kamar harus dititipkan ke resepsionis ketika keluar masuk asrama. Bahkan, pengantar pun tidak diperkenankan masuk lebih dalam selain ruangan resepsionis. Untuk fasilitas di dalamnya cukup lengkap dengan kamar AC, kamar mandi dengan bathtub, ruang laundry beserta pengeringnya, ruangan untuk mencuci peralatan makan, serta ruangan untuk menikmati pemandangan ke arah Sumida River.

Sumida River Bridge (隅田川橋)
Sumida River Bridge (隅田川橋)

Makanan

Untuk makanan sendiri, kami tidak begitu kesulitan dengan jenis makanan yang ada disini. Kebanyakan makanan yang halal berasal dari jenis makanan laut. Ikan, Udang, Gurita, Cumi, serta sebangsanya lebih dianjurkan karena lebih aman dimakan untuk muslim. Makanan makanan dengan bahan tersebut pun dapat ditemukan dengan mudah di supermarket terdekat, tentunya dalam bentuk onigiri atau sandwich. Makanan seperti Ramen, Monjayaki dan Okonomiyaki juga dapat dicoba, tentunya dengan minus bahan daging. Entah kenapa, saya suka sekali minum Pocari Sweat selama berada di Jepang dan terasa lebih nikmat dibandingkan dengan minuman yang sama di Indonesia.

Onigiri Isi Belut (鰻のおにぎり)
Onigiri Isi Belut (鰻のおにぎり)

Cuaca dan Suhu

Sebelum berangkat ke Jepang, kami sudah diwanti wanti oleh pimpinan dari Jepang kalau suhu di Tokyo kemungkinan akan berada di atas 35 ℃ dikarenakan di Jepang sedang berada di puncak musim panas di bulan Agustus. Selama berada di Tokyo, memang suhu di luar ruangan terasa sangat lembab, tetapi masih di batas wajar kami yang notabene sehari hari sudah menikmati jalanan Surabaya yang panas. Sementara di dalam ruangan, AC berhembus dengan lumayan kencang. Hari hari terakhir, kami juga merasakan badai taifun yang berhembus melewati Tokyo yang membuat penerbangan pulang kami hampir dibatalkan.

Transportasi

Transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat di Tokyo adalah kereta api. Ada sekitar kurang lebih 200 jalur kereta di seluruh jepang yang terbagi menjadi Subway, Monorail, kereta antar kota, dan komuter. Setiap harinya, kami menggunakan subway untuk menuju kantor yang berada di Shiodome. Karena kami hanya diberi uang cash, maka kami diharuskan membeli karcis setiap kali menggunakan subway. Untungnya, ketika pertama kali menggunakan subway, kami diajari oleh salah satu rekan dari kantor Jepang. Meskipun begitu, ketika keesokan harinya membeli karcis sendiri, saya masih kebingungan karena selain tulisan pada informasi menggunakan kanji, jalur kereta juga cukup banyak. Sementara rekan saya yang sebelumnya juga sudah pernah ke Jepang sebelumnya, sepertinya tidak kebingungan. Saya selalu memperhatikan gerak geriknya dan mempraktekkan hal hal yang tidak saya mengerti ketika berada di dalam subway.

Subway Ticket Machine
Subway Ticket Machine
Keramaian di stasiun subway
Keramaian di stasiun subway

Office Lifestyle

Rata rata aktivitas perkantoran di Jepang aktif dimulai sekitar pukul 10 pagi. Kantor yang kami kunjungi selama seminggu berada di salah satu wilayah Shiodome yang merupakan sebuah kawasan perkantoran besar dan bertempat di Shiodome Media Tower, di salah satu kantor berita (Kyodo News). Salah satu hal yang paling sulit saya lakukan ketika berkantor disini adalah komunikasi menggunakan bahasa Jepang. Saya sendiri baru beberapa bulan belajar baca tulis hiragana dan katakana sehingga untuk mengobrol dengan kalimat kalimat kompleks masih kurang begitu lancar. Untungnya, rekan saya yang merupakan translator sekaligus director project dapat berbicara bahasa Jepang dengan lancar sehingga saya selalu merepotkan dia ketika ingin berdiskusi masalah pekerjaan dengan staff di Jepang. Sepertinya saya harus mengasah lebih dalam kemampuan berbahasa jepang setelah ini.

Kyodo News Office
Kyodo News Office